Business Intelligence(BI)#2

2008 December 31 at 8:10 am Leave a comment

SUMBER:

Dari: Mohammad Syarwani <syarwani@yahoo.com>
Kepada: KOMPUTER-TEKNOLOGI@yahoogroups.com
Terkirim: Selasa, 30 Desember, 2008 16:48:05
Topik: KOM-TEK Repost: Mengenal Business Intelligence Software (BI)


Mengenal Business Intelligence Software (BI)

Ditulis oleh Mohammad Okki

Bicara mengenai software aplikasi dalam dunia industri, sampai saat
ini yang merupakan state-of-the- art technology adalah aplikasi ERP
(Enterprise Resource Planning). Sampai tahun 2005 ini tidak ada
software aplikasi yang dapat melebihi kecanggihan ERP. Tidak
mengherankan karena ERP telah mencakup keseluruhan organisasi, dan
meliputi semua aktivitas dalam organisasi. Namun bagi yang
berkecimpung di dunia IS/ES (Information System/Enterprise System),
kita dengan mudah belajar bahwa pasti akan ada aplikasi-aplikasi lain
yang akan muncul dan memberikan benefit-benefit baru pada praktisi
industri.
Benefit yang tidak mampu untuk disediakan oleh software yang lama.
Bila kita ikuti trend perkembangan software IS/ES -dari MRP I, MRP II,
hingga ERP- titik berat perkembangannya adalah pada otomasi proses bisnis.
Inti pemikirannya adalah bila task rutin di tingkat shop floor yang
bersifat repetitif bisa diselesaikan oleh komputer (dengan bantuan
sistem informasi) maka produktivitas karyawan bisa ditingkatkan. Makin
banyak volume pekerjaan yang terselesaikan. Bila produktivitas
karyawan meningkat dengan demikian akan terjadi efisiensi produksi.
Sebenarnya dari paparan di atas pun, dengan mudah kita dapat kenali
kelemahan dari software-software IS/ES tadi. MRP I, MRP II sampai ERP
hanya bicara mengenai efisiensi. Penghematan biaya, penghematan waktu,
penghematan inventory, dan lain sebagainya. Bagaimana dengan
efektivitas? Di era persaingan global ini, tuntutan untuk “do the
right thing” jauh lebih besar dan lebih sulit untuk dilakukan
dibandingkan dengan “do things right”.
Percuma bicara efisiensi distribusi bila ternyata yang kita produksi
tidak laku karena modelnya tidak disukai pasar. Percuma bicara
penghematan waktu dan biaya di shop floor bila pesaing kita melakukan
outsourcing produksi dan mereka tetap tidak kehilangan competitive edge.
Karena itulah muncul topik-topik seperti CRM dan SCM yang populer
belakangan ini. Di dunia IS/ES kita mengenal satu software yang sedang
banyak dibicarakan, yaitu Business Intelligence Software (BI).
Apa itu BI? Business Intelligence Software (BI) secara singkat juga
dikenal sebagai dashboard. Ini karena secara umum BI berfungsi seperti
halnya dashboard pada kendaraan. BI memberikan metrik (ukuran-ukuran)
yang menentukan performa kendaraan (organisasi) . BI juga memberikan
informasi kondisi internal, seperti halnya suhu pada kendaraan. Dan BI
juga memberikan sinyal-sinyal pada pengemudi bila terjadi kesalahan
pada kendaraan, seperti bila bensin akan habis pada kendaraan.
Semuanya berguna bagi pengemudi agar mampu mengendalikan kendaraannya
dengan lebih baik dan mampu membuat keputusan yang tepat dengan lebih
cepat.
Pada prakteknya, BI akan berfungsi sebagai analis, penghitung
scorecard, sekaligus memberikan rekomendasi pada user terhadap
tindakan yang sebaiknya diambil. Dengan menjalankan fungsi dashboard,
user BI akan mengenali potensi ketidakberesan pada perusahaan
sekaligus dengan penyebabnya sebelum hal tersebut berkembang menjadi
masalah yang besar. BI akan berfungsi memberikan advance alarm,
memberikan informasi trend dan melakukan benchmark.
Jadi kenapa perusahaan harus mengadopsi dashboard? Ada 7 keunggulan
utama BI
yang akan memberikan value bagi perusahaan:
1. Konsolidasi informasi
Dengan BI dijalankan di dalam perusahaan, data akan diolah dalam satu
platform dan disebarkan dalam bentuk informasi yang berguna
(meaningful) ke seluruh organisasi. Dengan ketiadaan information
assymmetry, kolaborasi dan konsolidasi di dalam perusahaan dapat
diperkuat. Dengan konsolidasi, maka dapat dimungkinkan pembuatan
cross-functional dan corporate-wide reports.
Meskipun harus diakui, benefit ini juga mampu disediakan oleh software
ERP.
2. In-depth reporting
Software Business Process Management (BPM) memang mampu memberikan
report dan analisis, namun cukup sederhana dan hanya bertolak pada
kondisi intern. Sedangkan BI mampu menyediakan informasi untuk isu-isu
bisnis yang lebih besar pada level strategis.
3. Customized Graphic User Interface (GUI)
Beberapa ERP memang berusaha membuat tampilan GUI yang user friendly,
namun BI melangkah lebih jauh dengan menyediakan fasilitas kustomisasi
GUI.
Sehingga tampilan GUI jauh dari kesan teknis dan memberikan view of
business sesuai dengan keinginan masing-masing user.
4. Sedikit masalah teknis
Ini karena -pertama- sifatnya yang user friendly meminimasi
kemungkinan operating error dari user, dan -kedua- BI hanya merupakan
software pada layer teratas (information processing) dan bukan
business process management.
5. Biaya pengadaan rendah
Karena BI hanya software yang bekerja pada layer teratas dari
pengolahan informasi, harga software-nya tidak semahal ERP. Biaya
pengadaannya pun menjadi lebih murah dibandingkan ERP.
6. Flexible databank
BI membuka kemungkinan untuk berkolaborasi dengan ERP sebagai pemasok
databank yang akan diolah menjadi reports dan scorecard, namun BI juga
dapat bekerja dari databank yang dibuat terpisah. BI pun menjadi
terbuka untuk digunakan oleh analis profesional dan peneliti, yang
data olahannya bersifat sekunder.
7. Responsiveness
Sifat dashboard (BI) lain yang tidak dimiliki oleh ERP adalah dalam
hal kecepatan (responsiveness) . Misalnya pada penghitungan service
level sebagai salah satu Key Performance Indicator (KPI). Fungsi
dashboard akan memberikan peringatan kepada user sebelum batas bawah
dalam service level (lower limit) terlampaui. Akibatnya masalah bisa
ditangani sebelum benar-benar muncul ke permukaan. Salah satu contoh
pada industri kesehatan, penggunaan BI berjasa mencegah penyebaran
suatu penyakit/wabah secara luas (outbreak).
Nama-nama vendor BI memang masih asing di Indonesia. Beberapa nama
yang terkemuka antara lain Business Object, Cognos, Hyperion,
MicroStrategy, SAS dan Bowstreet.
Di Amerika Utara dan Eropa, saat ini kustomer BI telah tersebar luas
pada sektor industri-industri terbesar seperti bank, airline, energi,
elektronik, kesehatan, agrikultur. Vendor-vendor BI juga telah
berkolaborasi dengan vendor-vendor Supply-Chain, Operating System
(Windows, Unix, Linux), dan software BPM seperti SAP, Oracle, IBM dan
EMC. Kolaborasi ini menyebabkan kustomer yang mengimplementasikan BI
tidak memiliki kesulitan dalam hal integrasi dengan sistem yang selama
ini ada di organisasi mereka.
Bagaimana trend ke depan? Bila di Indonesia dashboard masih barang
yang baru, di Amerika dan Eropa saat ini timbul kecenderungan pengguna
BI turun dari level eksekutif ke level office worker. Penggunaan BI
pun meluas, dari yang semula hanya ditujukan pada top-level
decision-maker ternyata pada prakteknya sangat bermanfaat juga bagi
daily decision-maker. Ini karena dashboard -dengan setting metrik yang
tepat- bisa mengurangi waktu siklus pengolahan informasi dan pada
akhirnya meningkatkan efektivitas karyawan dalam pengambilan keputusan.
Bagaimana dengan ukuran industri? Sebagaimana data terakhir pada
pertengahan 2005 menunjukkan, 60% perusahaan AS yang berpendapatan di
atas $100 juta telah mengimplementasi BI. 40% sisanya berencana
implementasi sebelum 2006 berakhir.
Bagaimana industri di Indonesia?

Entry filed under: Database. Tags: .

Business Intelligence (BI) Business Intelligent III

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: