Teruntuk para suami dan calon suami…

2008 November 5 at 3:59 pm Leave a comment

CATATAN: isi diluar tanggung jawab blogger

Hak Isteri Yang Harus Dipenuhi Suami

SUMBER :http://www.almanhaj.or.id/

Rabu, 21 Maret 2007 12:15:22 WIB
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Ketika jenjang pernikahan sudah dilewati, maka suami dan isteri haruslah saling
memahami kewajiban-kewajiban dan hak-haknya agar tercapai keseimbangan dan
keserasian dalam membina rumah tangga yang harmonis.

Di antara kewajiban-kewajiban dan hak-hak tersebut adalah seperti yang tersurat
dalam sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dari Shahabat Mu’awiyah bin
Haidah bin Mu’awiyah al-Qusyairi radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya dia bertanya
kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, apa hak
seorang isteri yang harus dipenuhi oleh suaminya?” Maka Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

1. Engkau memberinya makan apabila engkau makan,
2. Engkau memberinya pakaian apabila engkau ber-pakaian,
3. Janganlah engkau memukul wajahnya,
4. Janganlah engkau menjelek-jelekkannya, dan
5. Janganlah engkau meninggalkannya melainkan di dalam rumah (yakni jangan
berpisah tempat tidur melainkan di dalam rumah).”
[1]

[1]. ENGKAU MEMBERINYA MAKAN APABILA ENGKAU MAKAN

Memberi makan merupakan istilah lain dari memberi nafkah. Memberi
nafkah ini telah diwajibkan ketika sang suami akan melaksanakan ‘aqad nikah,
yaitu dalam bentuk mahar, seperti yang tersurat dalam Al-Qur’an, surat al-Baqarah ayat
233.

Allah berfirman
“Artinya : …Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka
dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya.”
[Al-Baqarah : 233]

Bahkan ketika terjadi perceraian, suami masih berkewajiban memberikan nafkah
kepada isterinya selama masih dalam masa ‘iddahnya dan nafkah untuk mengurus
anak-anaknya. Barangsiapa yang hidupnya pas-pasan, dia wajib memberikan nafkah
menurut kemampuannya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Artinya : …Dan orang yang terbatas rizkinya, hendaklah memberi nafkah
dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang
melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan
memberikan kelapangan setelah kesempitan.” [Ath-Thalaq : 7]

Ayat yang mulia
ini menunjukkan kewajiban seseorang untuk memberikan nafkah, meskipun ia dalam
keadaan serba kekurangan, tentunya hal ini disesuaikan dengan kadar rizki yang
telah Allah berikan kepada dirinya.

Berdasarkan ayat ini pula, memberikan nafkah kepada isteri hukumnya adalah
wajib. Sehingga dalam mencari nafkah, seseorang tidak boleh bermalas-malasan
dan tidak boleh menggantungkan hidupnya kepada orang lain serta tidak boleh
minta-minta kepada orang lain untuk memberikan nafkah kepada isteri dan
anaknya. Sebagai kepala rumah tangga, seorang suami harus memiliki usaha dan
bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai kemampuannya.

Perbuatan
meminta-minta menurut Islam adalah perbuatan yang sangat hina dan tercela.
Burung saja, yang diciptakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla tidak sesempurna manusia
yang dilengkapi dengan kemampuan berpikir dan tenaga yang jauh lebih besar,
tidak pernah meminta-minta dalam mencari makan dan memenuhi kebutuhannya. Dia
terbang pada pagi hari dalam keadaan perutnya kosong, dan kembali ke sarangnya
pada sore hari dengan perut yang telah kenyang. Demikianlah yang dilakukannya
setiap hari, meski hanya berbekal dengan sayap dan paruhnya.

Dalam mencari rizki, seseorang hendaknya berikhtiar (usaha) terlebih dahulu,
kemudian bertawakkal (menggantungkan harapan) hanya kepada Allah, sebagaimana
yang diperintahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Seandainya kalian
bertawakkal kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka sungguh kalian akan diberikan
rizki oleh Allah sebagaimana Dia memberikan kepada burung. Pagi hari burung itu
keluar dalam keadaan kosong perutnya, kemudian pulang di sore hari dalam
keadaan kenyang.” [2]

Seorang suami
juga harus memperhatikan rizki-rizki yang halal dan thayyibah, untuk diberikan
kepada isteri dan anaknya. Bukan dengan cara-cara yang tercela dan dilarang
oleh syari’at Islam yang mulia. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan
menerima dari sesuatu yang haram.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
“Artinya : Sesungguhnya Allah itu baik
dan tidak menerima kecuali yang baik.
Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kepada kaum
mukminin seperti yang Dia perintahkan kepada para Rasul. Maka, Allah berfirman:
‘Hai Rasul-Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal
yang shalih.” [Al-Mukminuun : 51]

Dan Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang
baik-baik yang Kami berikan kepada kalian.” [Al-Baqarah : 172]

Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan orang yang lama
bepergian; rambutnya kusut; berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke
langit, ‘Yaa Rabb-ku, yaa Rabb-ku,’ padahal makanannya haram, minumannya haram,
pakaiannya haram, dan diberi kecukupan dengan yang haram, bagaimana do’anya
akan dikabulkan?”
[3]

Nafkah yang diberikan
sang suami kepada isterinya, lebih besar nilainya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla
dibandingkan dengan harta yang diinfaqkan (meskipun) di jalan Allah ‘Azza wa
Jalla atau diinfaqkan kepada orang miskin atau untuk memerdekakan seorang
hamba.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
“Artinya : Uang yang engkau infaqkan di jalan Allah, uang yang engkau
infaqkan untuk memerdekakan seorang hamba (budak), uang yang engkau infaqkan
untuk orang miskin, dan uang yang engkau infaqkan untuk keluargamu, maka yang
lebih besar ganjarannya adalah uang yang engkau infaqkan kepada
keluargamu.”
[4]

Setiap yang
dinafkahkan oleh seorang suami kepada isterinya akan diberikan ganjaran oleh
Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam:

“Artinya : …Dan sesungguhnya,
tidaklah engkau menafkahkan sesuatu dengan niat untuk mencari wajah Allah,
melainkan engkau diberi pahala dengannya sampai apa yang engkau berikan ke
mulut isterimu akan mendapat ganjaran.” [5]


Seorang suami yang
tidak memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya, maka ia berdosa.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Artinya : Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan
orang yang wajib ia beri makan (nafkah).”
[6]


[2]. ENGKAU MEMBERINYA PAKAIAN APABILA ENGKAU BERPAKAIAN

Seorang suami haruslah memberikan pakaian kepada isterinya
sebagaimana ia berpakaian. Apabila ia menutup aurat, maka isterinya pun harus
menutup aurat. Hal ini menunjukkan kewajiban setiap suami maupun isteri untuk
menutup aurat. Bagi laki-laki batas auratnya adalah dari pusar hingga ke lutut
(termasuk paha). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Paha itu aurat.” [7]

Sedangkan bagi wanita
adalah seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangannya. Termasuk aurat
bagi wanita adalah rambut dan betisnya. Jika auratnya sampai terlihat oleh
selain mahramnya, maka ia telah berbuat dosa, termasuk dosa bagi suaminya
karena telah melalaikan kewajiban ini.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda
“Artinya : Ada
dua golongan penghuni Neraka, yang belum pernah aku lihat keduanya, yaitu suatu
kaum yang memegang cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia, dan
wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, ia berjalan berlenggak-lenggok
dan kepalanya dicondongkan seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan
masuk Surga dan tidak akan mencium aroma Surga, padahal sesungguhnya aroma
Surga itu tercium sejauh perjalanan begini dan begini.”
[8]


• Beberapa
syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam berpakaian (busana) muslimah yang
sesuai dengan syari’at Islam
[9] , yaitu:

• Menutupi Seluruh Tubuh, Kecuali Wajah Dan Kedua Telapak Tangan.

Allah Ta’ala berfirman:
“Artinya : Wahai Nabi! Katakanlah
kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin,
‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian
itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan
Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [Al-Ahzaab : 59]

Juga sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Asma’ binti Abi
Bakar.

“Artinya : Wahai Asma’, sesungguhnya
apabila seorang wanita telah haidh (sudah baligh), maka tidak boleh terlihat
darinya kecuali ini dan ini.”
Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam berisyarat ke wajah dan kedua
telapak tangan beliau
.
[10]

• Bukan
Berfungsi Sebagai Perhiasan.


Allah
Ta’ala berfirman:
“Artinya : Dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang
biasa terlihat.” [An-Nuur : 31]

Juga berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam
“Artinya : Ada tiga golongan, jangan engkau tanya
tentang mereka (karena mereka termasuk orang-orang yang binasa):… dan seorang
wanita yang ditinggal pergi suaminya, padahal suaminya telah mencukupi
keperluan duniawinya, namun setelah itu ia ber-tabarruj…”
[11]

• Kainnya Harus
Tebal, Tidak Boleh Tipis (Transparan).


Seorang wanita
dilarang memakai pakaian yang ketat atau tipis sehingga memperlihatkan bentuk
tubuhnya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
“Artinya : Pada akhir ummatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian
namun (hakikatnya) mereka telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat
punuk unta. Laknatlah mereka karena sebenarnya mereka itu wanita yang
terlaknat.”
[12]

• Harus Longgar
Dan Tidak Ketat.


Usamah
bin Zaid berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberiku
baju Qubthiyah yang tebal (biasanya baju tersebut tipis-pen) yang merupakan
baju yang dihadiahkan oleh Dihyah al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku
pakaikan kepada isteriku. Nabi bertanya, ‘Mengapa engkau tidak mengenakan baju
Qubthiyah?’ Aku menjawab, ‘Aku pakaikan baju itu pada isteriku.’ Lalu Nabi
shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Perintahkan ia agar mengenakan baju
dalam, karena aku khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk
tubuhnya.”
[13]

• Tidak Memakai
Wangi-Wangian (Parfum).


Larangan
mempergunakan parfum bagi wanita ini begitu keras, bahkan Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarangnya meskipun untuk pergi ke masjid.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Siapa pun wanita yang
memakai wangi-wangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar tercium baunya,
maka ia (seperti) pelacur.”
[14]

Sedangkan jika isteri
menggunakannya di hadapan suaminya, di dalam rumahnya, maka hal ini dibolehkan
—bahkan— dianjurkan berhias untuk suaminya.

• Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki.


Abu Hurairah
radhiyallaahu ‘anhu berkata.
“Artinya : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki
yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki.”
[15]

• Tidak
Menyerupai Pakaian Wanita-Wanita Kafir.


Sebab dalam syari’at
Islam telah ditetapkan bahwa kaum muslimin—muslim dan
muslimah—tidak boleh bertasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, baik
dalam ibadah, ikut merayakan hari raya, dan berpakaian dengan pakaian khas
mereka.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda.
“Artinya : Barangsiapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk golongan
mereka.”
[16]

• Bukan Pakaian
Syuhrah (Pakaian Untuk Mencari Popularitas)


Hal ini berdasarkan
hadits Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang mengenakan pakaian syuhrah (untuk mencari
popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya di
hari Kiamat lalu membakarnya dengan api Neraka.”
[17]

Pakaian syuhrah
adalah pakaian yang dipakai untuk meraih popularitas di tengah-tengah orang
banyak, baik pakaian tersebut mahal, yang dipakai oleh seseorang untuk
berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah,
yang dipakai oleh seseorang untuk menampakkan kezuhudan dan bertujuan untuk
riya’.
[18]

• Diutamakan
Berwarna Gelap (Hitam, Coklat, dll).


Mengenai
dianjurkannya pakaian berwarna gelap bagi muslimah adalah berdasarkan contoh
dari para Shahabiyah radhiyallaahu ‘anhunna. Mereka mengenakan pakaian berwarna
gelap agar lebih bisa menghindarkan fitnah dari pakaian yang mereka kenakan.
Sangat sempurna apabila jilbab yang dikenakan seorang wanita berkain tebal dan
berwarna gelap.

Di antara hadits yang menyebutkan bahwa pakaian wanita pada zaman Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam berwarna gelap adalah hadits yang diriwayatkan
dari Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anha, ia berkata.

“Artinya : Tatkala ayat ini turun, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya
ke seluruh tubuhnya,’ maka wanita-wanita Anshar keluar rumah dalam keadaan
seolah-olah di kepala mereka terdapat burung gagak karena pakaian (jilbab
hitam) yang mereka kenakan.”
[19]

Syaikh al-Albani
rahimahullaah berkata, “Lafazh ‘ghirban’ adalah bentuk jamak dari ‘ghurab’
(burung gagak). Pakaian (jilbab) mereka diserupakan dengan burung gagak karena
warnanya yang hitam.”

Beliau juga mengatakan, “Hadits ini dibawakan juga dalam kitab ad-Durr
(V/221) berdasarkan riwayat ‘Abdurrazzaq, ‘Abdullah bin Humaid, Abu Dawud,
Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih, dari hadits Ummu Salamah
dengan lafazh.

“Lantaran pakaian (jilbab) hitam yang mereka kenakan.” [20]

• Dilarang
Memakai Pakaian Yang Terdapat Gambar Makhluk Yang Bernyawa. Larangan Ini
Berlaku Untuk Laki-Laki Dan Perempuan.

Jika seorang suami malu dan risih dengan pakaian yang tidak menutup aurat
-dengan celana pendek misalnya- untuk pergi ke kantor, maka hendaknya dia juga
merasa risih ketika mengetahui bahwa isterinya pergi ke pasar, ke tempat umum
atau keluar rumah dengan aurat terbuka. Sehingga orang-orang yang jahil dan
berakhlak buruk turut melihat keindahan tubuh isteri yang dicintainya.

Seorang suami hendaknya memiliki rasa cemburu dalam masalah ini, karena kalau
tidak, niscaya dia akan menjadi dayyuts (membiarkan kejelekan yang timbul dalam
rumah tangganya), dan ini akan menjadi awal malapetaka yang dapat
menghancurleburkan kehidupan rumah tangga yang telah dibangun dan dibinanya
dengan susah payah.

Seorang suami hendaknya menasihati isterinya dalam masalah pakaian ini sehingga
isterinya tidak melanggar batas-batas yang telah ditetapkan syari’at dan
menyempurnakannya dengan pakaian terbaik menurut syari’at Islam. Hal ini supaya
ia tidak terjebak pada istilah-istilah busana muslim yang modis dan trendi,
yang justru pada hakikatnya merupakan busana yang terlaknat seperti hal-hal
tersebut di atas.

[3]. JANGAN ENGKAU
MEMUKUL WAJAHNYA


Di antara hak yang
harus dipenuhi seorang suami kepada isterinya ialah tidak memukul wajah
isterinya, meski terjadi perselisihan yang sangat dahsyat, misalnya karena si
isteri telah berbuat durhaka kepada suaminya. Memukul wajah sang isteri adalah
haram hukumnya. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla.

“Artinya : Laki-laki (suami) itu
pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian
mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka
(laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang
shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika
(suami-nya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan
yang kamu khawatirkan akan nusyuz
[21], hendaklah kamu beri
nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang),
dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka
janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah
Mahatinggi, Mahabesar.” [An-Nisaa’ : 34]

Dalam ayat ini, Allah membolehkan seorang suami memukul isterinya. Akan tetapi
ada hal yang perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh tentang bolehnya memukul
adalah harus terpenuhinya kaidah-kaidah sebagai berikut, yaitu:

1. Setelah dinasihati, dipisahkan tempat tidurnya, namun tetap tidak mau
kembali kepada syari’at Islam.
2. Tidak diperbolehkan memukul wajahnya.
3. Tidak boleh memukul dengan pukulan yang menimbulkan bekas atau membahayakan
isterinya.

Pukulannya pun pukulan yang tidak melukai, sebagaimana sabda Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Artinya : Dan pukullah mereka dengan
pukulan yang tidak melukai
.”
[22]

Pada zaman Nabi
shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ada sebagian Shahabat yang memukul isterinya,
kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Namun ‘Umar bin
al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu mengadukan atas bertambah beraninya
wanita-wanita yang nusyuz (durhaka kepada suaminya), sehingga Rasul memberikan
rukhshah untuk memukul mereka. Para wanita
berkumpul dan mengeluh dengan hal ini, kemudian Rasul shallallaahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,

“Artinya :
Sesungguhnya mereka itu (yang suka memukul isterinya) bukan orang yang baik di
antara kamu.”

[23]

Dari ‘Abdullah bin
Jam’ah bahwasanya ia telah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Artinya
: Bagaimana mungkin seseorang di antara kalian sengaja mencambuk isterinya
sebagaimana ia mencambuk budaknya, lalu ia menyetubuhinya di sore
harinya?”
[24]

Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan tentang laki-laki yang baik,
yaitu yang baik kepada isteri-isterinya.

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Artinya :
Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya dan aku adalah yang
paling baik kepada isteriku”
[25]

“Artinya :
Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan
sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya.”
[26]

[4]. JANGANLAH SEKALI-KALI ENGKAU MENJELEKKAN ISTERI


Contoh ucapan yang
dimaksud adalah “Semoga Allah menjelekkanmu” atau “Kamu dari
keturunan yang jelek” atau yang lainnya yang menyakitkan hati sang isteri.

Seorang suami telah memilih isterinya sebagai pendamping hidupnya, maka
kewajiban dia untuk mendidik isterinya dengan baik. Setiap manusia tidak ada
yang sempurna, sehingga adanya kekurangan dalam kehidupan berumah tangga
merupakan sesuatu yang wajar saja terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Terkadang isteri memiliki kekurangan dalam satu sisi, dan suami pun memiliki
kekurangan dari sisi yang lain. Tidak selayaknya melimpahkan tumpuan kesalahan
tersebut seluruhnya kepada sang isteri.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Tidak
boleh seorang mukmin menjelekkan seorang mukminah. Jika ia membenci satu akhlak
darinya maka ia ridha darinya (dari sisi) yang lain.”
[27]

Seorang suami,
sebagai kepala rumah tangga berkewajiban untuk membimbing dan mendidiknya
dengan sabar sehingga dapat menjadi isteri yang shalihah dan dapat melayani
suaminya dengan penuh keridhaan.

Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk memanjatkan do’a kepada Allah ‘Azza wa
Jalla atas kebaikan tabiat isterinya dengan memegang ubun-ubunnya seusai ‘aqad
nikah sambil membaca:

“Ya Allah, aku
memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung
dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang dibawanya.”
[28]

Apabila isteri Anda
salah, keliru atau melawan Anda, maka nasihatilah dengan cara yang baik, tidak
boleh menjelek-jelekkannya, dan do’akanlah agar Allah memperbaikinya dan
menjadikannya isteri yang shalihah.

[5]. TIDAK BOLEH ENGKAU MEMISAHKANNYA,
KECUALI DI DALAM RUMAH


Jika seorang suami
dalam keadaan marah kepada isterinya atau terjadi ketidakharmonisan di antara
keduanya, maka seorang suami tidak berhak untuk mengusir sang isteri dari
rumahnya. Islam menganjurkan untuk meninggalkan mereka di dalam rumah, di
tempat tidurnya dengan tujuan untuk mendidiknya. Sang suami harus tetap bergaul
dengan baik terhadap isterinya, seperti yang termaktub di dalam kitab suci
Al-Qur-an yang mulia, Allah Ta’ala berfirman:

“Artinya : Dan janganlah kamu keluarkan
mereka dari rumahnya dan janganlah (diizinkan) keluar kecuali jika mereka
mengerjakan perbuatan keji yang jelas.” [Ath-Thalaq : 1]

Juga firman-Nya.

“Artinya : … Dan bergaullah
dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka
bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah
menjadikan kebaikan yang banyak pada-nya.” [An-Nisaa’ : 19]

Pernikahan adalah ikatan yang kokoh “miitsaqon gholiidhoo”, tidak
selayaknya hanya karena masalah yang kecil dan sepele kemudian tercerai-berai.
Bahkan dalam masalah-masalah yang sangat besar pun, kita diperintahkan untuk
bersabar menghadapinya, serta saling menasihati.

Akan menjadi sangat sulit bagi orang tua (suami dan isteri) untuk membimbing
dan mendidik keturunannya agar menjadi anak yang shalih, manakala sang suami
berpisah dengan isterinya. Sedangkan anak yang shalih merupakan salah satu aset
yang sangat berharga, baik untuk kehidupan kedua orang tuanya di dunia terlebih
di akhirat kelak.

Bahkan kata-kata yang mengandung perceraian (thalaq) harus dijauhkan dengan
sejauh-jauhnya meskipun sang suami dalam keadaan marah yang sangat, baik
diutarakan dengan sungguh-sungguh maupun sekedar berkelakar. Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang kalimat thalaq ini:

“Artinya : Tiga
hal yang apabila diucapkan akan sungguh-sungguh terjadi, main-mainnya (pun)
terjadi, yaitu nikah, thalaq, dan ruju’.”
[29]

Seseorang ketika
dalam keadaan marah, cenderung untuk mengeluarkan kata-kata yang kotor,
perkataan yang jelek, dusta, mencaci maki, mengungkit-ungkit kejelekan lawan
bicara, menyanjung-nyanjung dirinya dan mengeluarkan kalimat yang mengandung
kekufuran atau yang lainnya. Untuk itulah, ketika kita dalam keadaan marah,
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk mengucapkan
perkataan yang baik, atau kalau tidak mampu maka dianjurkan untuk diam, beliau
shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Apabila seseorang dari
kalian marah, hendaklah ia diam
.”
[30]


[6]. MENGAJARKAN ILMU AGAMA


Di antara hak seorang
isteri yang harus dipenuhi suaminya adalah memberikan pendidikan dan pengajaran
dalam perkara agama. Dengan memahami dan mengamalkan agamanya, seseorang akan
mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman.

“Artinya : Wahai
orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-malaikat yang
kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia
perintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
[At-Tahrim : 6]

Menjaga keluarga dari
api Neraka mengandung maksud menasihati mereka agar taat, bertaqwa kepada Allah
‘Azza wa Jalla dan mentauhidkan-Nya serta menjauhkan syirik, mengajarkan
kepada mereka tentang syari’at Islam, dan tentang adab-adabnya. Para Shahabat
dan mufassirin menjelaskan tentang tafsir ayat tersebut sebagai berikut:

1. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Ajarkanlah agama
kepada keluarga kalian, dan ajarkan pula adab-adab Islam.”

2. Qatadah rahimahullaah berkata, “Suruh keluarga kalian untuk taat kepada
Allah! Cegah mereka dari berbuat maksiyat! Hendaknya mereka melaksanakan
perintah Allah dan bantulah mereka! Apabila kalian melihat mereka berbuat
maksiyat, maka cegah dan laranglah mereka!”

3. Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullaah berkata: “Ajarkan keluarga kalian
untuk taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang (hal itu) dapat menyelamatkan diri
mereka dari api Neraka.”

4. Imam asy-Syaukani mengutip perkataan Ibnu Jarir: “Wajib atas kita untuk
mengajarkan anak-anak kita Dienul Islam (agama Islam), serta mengajarkan
kebaikan dan adab-adab Islam.”
[31]

Untuk itulah,
kewajiban seorang suami untuk membekali dirinya dengan thalabul ‘ilmi (menuntut
ilmu syar’i) dengan menghadiri majelis-majelis ilmu yang mengajarkan Al-Qur’an
dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih -generasi yang terbaik,
yang mendapat jaminan dari Allah-, sehingga dengan bekal tersebut dia mampu
mengajarkannya kepada isteri dan keluarganya.

Jika ia tidak sanggup untuk mengajarkannya, hendaklah seorang suami mengajak
isteri dan anaknya untuk bersama-sama hadir di dalam majelis ilmu yang
mengajarkan Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman
Salafush Shalih, mendengarkan apa yang disampaikan, memahami dan mengamalkannya
dalam kehidupan sehari-hari. Dengan hadirnya suami-isteri di majelis ilmu akan
menjadikan mereka sekeluarga dapat memahami Islam dengan benar, beribadah
dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah ‘Azza wa Jalla semata serta senantiasa
meneladani Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Insya Allah, hal ini akan
memberikan manfaat dan berkah yang sangat banyak karena suami maupun isteri
saling memahami hak dan kewajibannya sebagai hamba Allah.

Dalam kehidupan yang serba materialistis seperti sekarang ini, banyak suami
yang melalaikan diri dan keluarganya. Berdalih mencari nafkah untuk menghidupi
keluarganya, dia mengabaikan kewajiban yang lainnya. Seolah-olah dia merasa
bahwa kewajibannya cukup hanya dengan memberikan nafkah berupa harta, kemudian
nafkah batinnya, sedangkan pendidikan agama yang merupakan hal paling pokok
justru tidak pernah dipedulikan.

Seringkali sang suami jarang berkumpul dengan keluarganya untuk menunaikan
ibadah bersama-sama. Sang suami pergi ke kantor pada pagi hari ba’da Shubuh dan
kembali ke rumahnya larut malam. Pola hidup seperti ini adalah pola hidup yang
tidak baik. Tidak pernah atau jarang sekali ia membaca Al-Qur’an, kurang sekali
memperhatikan isteri dan anaknya shalat, dan tidak memperhatikan pendidikan
agama mereka sehari-hari. Bahkan pendidikan anaknya dia percayakan sepenuhnya
kepada pendidikan di sekolah, dan bangga dengan sekolah-sekolah yang memungut
biaya sangat mahal karena alasan harga diri. Ia merasa bahwa tugasnya sebagai
orang tua telah ia tunaikan seluruhnya. Lantas bagaimana kita dapat mewujudkan
anak yang shalih, sedangkan kita tahu bahwa salah satu kewajiban yang mulia
seorang kepala rumah tangga adalah mendidik keluarganya. Sementara tidak bisa
kita pungkiri juga bahwa pengaruh negatif dari lingkungan yang cukup kuat
berupa media cetak dan elektronik seperti koran, majalah, tabloid, televisi,
radio, VCD, serta peralatan hiburan lainnya sangat mudah mencemari pikiran dan
perilaku sang anak. Bahkan media ini bisa menjadi orang tua ketiga, maka kita
harus mewaspadai media-media yang ada dan alat-alat permainan yang sangat
berpengaruh buruk terhadap perilaku anak-anak kita.

Oleh karena itu, kewajiban seorang suami harus memperhatikan pendidikan isteri
dan anaknya, baik tentang Tauhid, shalat, bacaan Al-Qur’annya, pakaiannya,
pergaulannya, serta bentuk-bentuk ibadah dan akhlak yang lainnya. Karena Islam
telah mengajarkan semua sisi kehidupan, kewajiban kita untuk mempelajari dan
mengamalkannya sesuai Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Begitu pula kewajiban seorang isteri adalah membantu suaminya mendidik
anak-anak di rumah dengan baik. Seorang isteri diperintahkan untuk tetap
tinggal di rumah mengurus rumah dan anak-anak, serta menjauhkan diri dan
keluarga dari hal-hal yang bertentangan dengan syari’at Islam.


[7]. MENASIHATI ISTERI DENGAN CARA YANG BAIK


Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan agar berbuat baik kepada kaum
wanita, berlaku lemah lembut dan sabar atas segala kekurangannya, karena mereka
diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah
ia
menyakiti tetangganya. Berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan. Sebab,
mereka diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah
bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika
engkau membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berwasiat-lah
kepada wanita dengan kebaikan.”
[32]

[8]. MENGIZINKANNYA KELUAR UNTUK KEBUTUHAN YANG MENDESAK


Di antara hak isteri
adalah suami mengizinkannya keluar untuk suatu kebutuhan yang mendesak, seperti
pergi ke warung, pasar dan lainnya untuk membeli kebutuhan rumah tangga.
Berdasarkan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya :
Sesungguhnya Allah telah mengizinkan kalian (para wanita) keluar (rumah) untuk
keperluan (hajat) kalian.”
[33]

Tetapi, keluarnya
mereka harus dengan beberapa syarat, yaitu:

1. Memakai hijab syar’i yang dapat menutupi seluruh tubuh.
2. Tidak ikhtilath (berbaur) dengan kaum laki-laki.
3. Tidak memakai wangi-wangian (parfum).

Seorang suami pun dibolehkan untuk mengizinkan isterinya untuk menghadiri
shalat berjama’ah di masjid apabila ketiga syarat di atas terpenuhi.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Apabila isteri salah seorang
dari kalian meminta izin untuk pergi ke masjid, janganlah ia menghalanginya.”

[34]

Dalam hadits yang
lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian melarang para wanita
hamba Allah mendatangi masjid-masjid Allah.”
[35]

[9]. SUAMI HARUS DAPAT BERLAKU ADIL TERHADAP ISTERINYA, JIKA IA MEMPUNYAI
ISTERI LEBIH DARI SATU


Yaitu berbuat adil
dalam hal makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan dalam hal tidur seranjang.
Ia tidak boleh sewenang-wenang atau berbuat zhalim karena sesungguhnya Allah
melarang yang demikian. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa memiliki dua isteri, kemudian ia lebih condong
kepada salah satu dari keduanya, maka ia akan datang pada hari Kiamat dalam
keadaan pundaknya miring sebelah.”
[36]

Pada dasarnya
poligami (ta’addud) dibolehkan dalam Islam apabila seorang dapat berlaku adil.
Di akhir buku ini, penulis bawakan pembahasan tentang hal ini dalam bab
Kedudukan Wanita dalam Islam.

[10]. JIKA SEORANG SUAMI PULANG DARI
SAFAR, HENDAKLAH TERLEBIH DAHULU IA MENUJU MASJID UNTUK MENGERJAKAN SHALAT DUA
RAKA’AT, LALU PULANG KE RUMAHNYA UNTUK BERCAMPUR DENGAN ISTERINYA


Hal ini adalah Sunnah
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang diceritakan oleh Ka’ab
bin Malik radhiyallaahu ‘anhu ketika ia tidak ikut perang Tabuk dalam sebuah
hadits panjang yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3088) dan Muslim (no. 716
(74)).

Kemudian hendaklah suami mengutus seseorang untuk memberi kabar kedatangannya
agar mereka dapat bersiap-siap menyambut kedatangannya. Atau dapat menggunakan
telepon atau HP pada zaman sekarang ini.

Dan di malam itu hendaklah ia tidak langsung tidur sebelum memenuhi hajat
biologis isterinya, jika ia mampu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Jangan tergesa-gesa hingga
engkau dapat datang pada waktu malam -yaitu ‘Isya’- agar ia (isterimu) sempat
menyisir rambut yang kusut dan mencukur bulu kemaluannya. Selanjutnya,
hendaklah engkau menggaulinya”
[37]

Demikianlah sejumlah
hak para isteri yang harus ditunaikan oleh para suami. Sesungguhnya memenuhi
hak-hak isteri merupakan salah satu keselamatan keluarga, serta sebagai sebab
menjauhnya segala permasalahan yang dapat mengusik dan menghubungkan rasa aman,
tenteram, damai, serta rasa cinta dan kasih sayang.
[38]

WASPADALAH TERHADAP FITNAH WANITA


Kecintaan suami
terhadap isterinya dan kecintaan isteri terhadap suaminya tidak boleh
menjadikan keduanya mengharamkan apa yang telah Allah halalkan dan menghalalkan
apa yang telah Allah haramkan, atau melakukan dosa-dosa dan maksiat karena
ingin mendapat keridhaan masing-masing dari keduanya atas yang lain.

Allah Ta’ala pernah menegur Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Dia
berfirman.

“Artinya : Wahai Nabi, mengapa engkau
mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati
isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Sungguh, Allah telah
mewajibkan kepadamu membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah
pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui, Mahabijak-sana.” [At-Tahrim :
1-2]

Di dalam ash-Shahiihain dari hadits ‘Aisyah radhiyal-laahu ‘anha, ia berkata,
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah minum madu di tempat
Zainab binti Jahsyi dan tinggal bersamanya. Aku dan Hafshah bersepakat untuk
mengatakan kepada beliau apabila beliau menemui salah seorang dari kami,
‘Apakah engkau telah memakan maghafir? Sungguh aku mendapati darimu aroma
maghafir.’ Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak, tetapi
tadi aku minum madu di rumah Zainab binti Jahsyi dan aku tidak akan
mengulanginya dan aku bersumpah. Jangan engkau beberkan hal ini kepada seorang
pun.’ Maka turunlah ayat ini [At-Tahrim: 1-2]”
[39]

Di sini Allah telah
memperingatkan kaum laki-laki agar tidak terfitnah dengan wanita, begitu juga
kaum wanita agar tidak terfitnah dengan laki-laki.

Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh
bagimu,
[40] maka berhati-hatilah
kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni
(mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Sesungguhnya
hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang
besar.” [At-Taghaabuun : 14-15]

“Artinya : Dijadikan terasa indah dalam
pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan,
anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda
pilihan, hewan ternak
[41] dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang
baik.” [Ali ‘Imran : 14]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Tidak ada fitnah yang aku
tinggalkan setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah
wanita.”
[42]

Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya dunia ini manis
dan indah. Dan sesungguhnya Allah menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa
yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena
itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali
terjadi pada bani Israil adalah karena wanita.”
[43]

Hendaklah seorang
muslim benar-benar waspada terhadap fitnah ini, karena di antara manusia ada
yang terseret oleh kecintaannya yang berlebihan terhadap isterinya sehingga ia
berbuat durhaka kepada orang tua, memutuskan silaturahmi dan berbuat kerusakan
di bumi, sehingga laknat Allah akan menimpanya.

Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Maka apakah sekiranya kamu
berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan
kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah; lalu dibuat
tuli (pendengarannya) dan dibutakan penglihatannya).” [Muhammad :
22-23]

Di antara manusia ada yang diseret oleh kecintaannya kepada isterinya untuk
mencari harta yang haram guna memenuhi kecintaannya dan memuaskan syahwatnya.
Di antara mereka pun ada yang saling membunuh dengan tetangganya dengan sebab
ulah isterinya. Maka, hendaklah seseorang berhati-hati terhadap fitnah wanita.
[44]

[Disalin dari buku
Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir
Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa’dah
1427H/Desember 2006]



[1] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2142),
Ibnu Majah (no. 1850), Ahmad (IV/447, V/3, 5), Ibnu Hibban (no. 1286,
al-Mawaarid), al-Baihaqi (VII/295, 305, 466-467), al-Baghawi dalam Syarhus
Sunnah (IX/159-160), dan an-Nasa’i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 289) dan
dalam Tafsiir an-Nasa’i (no. 124). Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dan
disetujui oleh adz-Dzahabi.

[2] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no.
2344), Ahmad (I/30), Ibnu Majah (no. 4164), at-Tirmidzi berkata, “Hadits
ini hasan shahih.” Dishahihkan juga oleh al-Hakim (IV/318), dari ‘Umar bin
al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu.

[3] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1015),
at-Tirmidzi (no. 2989), Ahmad (II/328) dan ad-Darimi (II/300), dari Shahabat
Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.

[4] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 995),
dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.

[5] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1295)
dan Muslim (no. 1628), dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu ‘anhu.

[6] Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud
(no. 1692), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Hadits ini
dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud (V/376, no.
1485).

[7] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no.
2796, 2797) dari Ibnu ‘Abbas dan Jarhad al-Aslami radhiyallaahu ‘anhum. Lihat
Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 4280).

[8] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2128),
dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.

[9] Untuk lebih jelasnya, silakan membaca kitab Jilbab
al-Mar-atil Muslimah (Jilbab Wanita Muslimah) yang ditulis oleh Syaikh
Mu-hammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah dan kutaib an-Nisaa’ wal Mauzhah
wal Aziyaa’ oleh Khalid bin ‘Abdurrahman asy-Syayi’ cet. Darul Wathan Riyadh,
diterjemahkan dengan judul “Bahaya Mode”.

[10] Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4104), dari
‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Lihat takhrij lengkap hadits ini dalam kitab
ar-Raddul Mufhim (Hal. 79-102) oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani
rahimahullaah. Beliau menghasankan hadits ini dengan takhrij ilmiah menurut
kaidah ulama ahli hadits.

[11] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Hakim (I/119) dan Ahmad
(VI/19), dari Shahabat Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Shahiih
al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3058).

[12] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam
al-Mu’jamush Shaghiir (I/127-128) dari hadits Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma.

[13] Diriwayatkan oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisi dalam kitab
al-Hadits al-Mukhtarah (I/441).

[14] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/414, 418),
an-Nasa’i (VIII/153), Abu Dawud (no. 4173) dan at-Tirmidzi (no. 2786), dari Abu
Musa radhiyallaahu ‘anhu.

[15] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4098), Ibnu
Majah (no. 1903), al-Hakim (IV/194) dan Ahmad (II/325), dari Abu Hurairah
radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Jilbaab al-Mar-atil Muslimah (hal. 141) oleh Syaikh
al-Albani rahimahullaah.

[16] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4031), Ahmad
(II/50, 92), dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Shahiihul Jaami’ (no.
6149) dan Jilbaab al-Mar-atil Muslimah (hal. 203-204).

[17] Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4029) dan
Ibnu Majah (no. 3607), dari Shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat
Jilbaab al-Mar-atil Muslimah (hal. 213)

[18] Jilbab al-Mar’atil Muslimah (hal. 213).

[19] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4101).

[20] Lihat Jilbab al-Mar-atil Muslimah (hal. 82-83). Sebagian
ulama membolehkan seorang muslimah memakai pakaian selain warna hitam. Akan
tetapi harus diingat bahwa warna selain hitam tersebut bukan sebagai perhiasan
seperti yang dilakukan para muslimah sekarang ini. Dimana mereka mengenakan
pakaian dengan warna dan model yang beraneka ragam sehingga menarik perhatian
orang banyak.

[21] Nusyuz yaitu meninggalkan kewajibannya selaku isteri,
seperti meninggalkan rumah tanpa seizin suaminya, dan lainnya.

[22] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218 (147)),
dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma.

[23] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2146), Ibnu
Majah (no. 1985), Ibnu Hibban (no. 1316 -al-Mawaarid) dan al-Hakim (II/188),
dari Sahabat Iyas bin ‘Abdillah bin Abi Dzubab radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini
dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi.

[24] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 4942),
Muslim (no. 2855) dan at-Tirmidzi (no. 2401).

[25] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thahawi dalam
al-Musykilul Atsar (VI/343, no. 2523), Ibnu Majah (no. 1977), dari Ibnu ‘Abbas
radhiyallaahu ‘anhuma. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban (no. 1312
-al-Mawaarid) dan at-Tirmidzi (no. 3895), dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha.

[26] Hadits shahih lighairihi: Diriwayatkan oleh Ahmad (II/250
dan 472), at-Tirmidzi (no. 1162) dan Ibnu Hibban (no. 1311 -al-Mawaarid),
dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 284).

[27] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1469), dari Abu
Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.

[28] Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2160), Ibnu
Majah (no. 1918), al-Hakim (II/185), al-Baihaqi (VII/148), dan al-Hakim
menshahihkannya, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Aadabuz
Zifaaf (hal. 92-93).

[29] Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud
(no. 2194), at-Tirmidzi (no. 1184), Ibnu Majah (no. 2039), al-Hakim (II/198)
dan Ibnul Jarud (no. 712) dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Irwaa-ul
Ghaliil (no. 1826).

[30] Hadits shahih lighairihi: Diriwayatkan oleh
al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 245 dan 1320), Ahmad (I/239, 283, 365),
dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, lihat Silsilah al-Ahaadiits
ash-Shahiihah (no. 1375).

[31] Lihat Tafsiir ath-Thabari (XII/156-157) cet. Darul Kutub
Ilmiyah, Tafsiir Ibnu K

Entry filed under: RELIGI. Tags: .

Bukan beban berat yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut. DBA: Oracle Discoverer 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: