Nasionalisme TKI di Dubai

2008 October 13 at 9:05 am Leave a comment

TKI

Sabtu, 11 Oktober 2008 | 01:00 WIB

Oleh Jaya Suprana

Akronim TKI atau tenaga kerja Indonesia telanjur menyandang citra
tidak terlalu positif.

Seolah tenaga kerja dari Indonesia tidak terampil, tidak profesional,
yang perempuan sekadar bulan-bulanan pelecehan, penganiayaan, sampai
pembunuhan di perantauan ataupun di negeri sendiri. Namun kenyataannya
tidak seburuk kesan yang sudah telanjur merebak itu.

Superlatif

Pada awal abad ke-21 Dubai merupakan kota megapolitan termuda saat
ini. Pembangunan gedung pencakar langit di Dubai layak diakui sebagai
tercepat dan terambisius di dunia. Dubai membangun beberapa daratan
kepulauan baru dengan beragam bentuk, dari pohon nyiur sampai peta
dunia merambah ke perairan Selat Persia.

Kelompok Gold Souk merupakan kawasan toko emas terluas di dunia. Maka,
de facto Dubai menjadi pusat pasar emas dunia hingga dijuluki City of
Gold. Rekor menara tertinggi di dunia disandang Burj Dubai bahkan akan
diungguli Nakheel’s Al Burj yang kian mencakar langit di altitud 1.200
meter!

Mal terbesar di dunia juga akan terbentang di bawah cakaran langit
Burj Dubai, sementara rekor bangunan dan atrium lobi hotel tertinggi
sekaligus termewah sudah digenggam hotel Burj Al Arab. Tuntutan
kualifikasi untuk diterima bekerja di superhotel ini amat tinggi. Di
sana terbukti, kesan negatif yang melekat pada citra TKI sebenarnya
keliru.

Adiboga

Burj Al Arab memiliki beberapa restoran superlatif, seperti Al Iwan,
Bab Al Yam, Majlis Al Bahar, Al Muntaha di lantai tertinggi, atau Al
Maharam di bawah permukaan laut yang sempat dinobatkan sebagai salah
satu World’s Best Restaurant.

Namun, Jun Sui memiliki peran tersendiri karena menyajikan prasmanan
miriad jenis cuisine Asia di mana kawasan Uni Emirat Arab ikut
terletak. Sebagai identitas setiap hidangan di meja saji yang
panjangnya puluhan meter terpasang bendera kecil negara mana sang
hidangan berasal.

Saya hampir tidak percaya karena bendera-bendera mungil yang
dikibarkan di sana ternyata didominasi sang Merah Putih. Perut juga
hampir tidak percaya karena sebagian hidangan yang disajikan di
kawasan Jumeirah pesisir Sahara itu ternyata berlabel nasi goreng,
rendang, sate, gado-gado, pecel, tahu telor, betutu, rica-rica,
balado, bakwan, dan aneka ragam masakan dari berbagai pelosok Nusantara.

Telinga hampir tidak percaya mendengar sapaan supervisor bergaun hitam
panjang: “Selamat datang, Pak Jaya!”, disusul sang pramusaji ramah
menyilakan, “Selamat menikmati hidangan Indonesia!” dalam bahasa
Indonesia logat Sunda! Dua insan muda Indonesia itu tidak sendirian
karena di Jun Sui Burj Al Arab Dubai banyak TKI lainnya.

Dapur Jun Sui sudah menjadi koloni Indonesia “dijajah” delapan chef
Indonesia . Bahkan, di Burj Al Arab bergelar The World’s Most
Luxurious Hotel itu kini berkarya sekitar 150 TKI kategori skilled
tersebar di front of house mau pun back of house.

“Indonesia Pusaka”

Para TKI di hotel Burj Al Arab membuktikan diri mereka bukan cuma
profesionalis, tetapi juga nasionalis. Kewibawaan para pekerja
Indonesia begitu dominan hingga 17 Agustus 2008 berhasil “menguasai”
hotel termewah di dunia untuk menyelenggarakan Indonesian Day di
restoran Jun Sui dengan memonopoli seluruh hidangan berasal dari
Indonesia disiapkan oleh para chef dari Indonesia dibantu kolega dari
Jepang, China, India, Thailand, dan Korea disajikan para waiter juga
mancanegara, tetapi berbusana tradisional Indonesia diiringi alunan
musik Indonesia. Pendek kata, pada hari mendirgahayu 63 tahun
Proklamasi Kemerdekaan RI yang dihadiri Konjen RI di Dubai mendampingi
para tamu terhormat dari mancanegara, hotel Burj Al Arab benar-benar
menjunjung tinggi harkat dan martabat kebudayaan bangsa dan negara
Indonesia sesuai syair lagu Indonesia Pusaka: Indonesia sejak dahulu
kala, selalu dipuja-puja bangsa.

Kesemarakan itu terjadi berkat jerih payah perjuangan para TKI hotel
terkemuka di megapolitan negara termakmur di planet bumi masa kini.
Menyimak semua itu, rasa haru menyelinap di lubuk sanubari sambil
mengharap semoga desas-desus bahwa TKI diperas habis-habisan di
terminal khusus TKI bandara Soekarno- Hatta sama sekali tidak benar.
Apalagi kita sudah punya Depnakertrans yang berkewajiban menyiapkan,
memfasilitasi, dan mendukung para TKI sedemikian rupa hingga tidak
dipandang sebelah mata apalagi diperlakukan secara tidak manusiawi
sebab mereka bukan hanya pahlawan penghasil devisa, tetapi juga
penjunjung tinggi citra bangsa dan negara Indonesia melalui etos dan
profesionalisme kerja yang diakui, dihargai, bahkan dipuja- puja
bangsa mancanegara sejak dahulu kala

Jaya Suprana Budayawan

Sumber: kompas.com

Entry filed under: Nasionalis. Tags: .

contoh2 Oracle TSQL Link refrensi untuk oracle Developer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: