Sarno dan Pohon Durian Bhineka Bawor

2008 November 27 at 11:35 am 11 comments

KOMPAS/MADINA NUSRAT / Kompas Images

Rabu, 19 November 2008 | 03:00 WIB

Oleh Madina Nusrat

Instingnya terhadap durian begitu kuat. Cukup melihat bijinya, ia tahu jenis durian itu. Pengalaman semasa kecil menemani sang ayah mencari durian hingga ke pelosok desa membuat Sarno Ahmad Darsono terobsesi pada durian. Ia lalu ”menciptakan” pohon durian bhineka bawor, hasil okulasi 20 jenis durian varietas lokal dan luar. ”Begitu banyak jenis durian di negeri ini, kenapa kita kalah dari Thailand?” pikirnya.

Permenungan itu menantang Sarno, petani durian dari Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, untuk mendapatkan kelebihan dan peningkatan produktivitas durian. Tahun 1996 ia berkeyakinan, pohon durian yang sebelumnya baru berbuah setelah berusia delapan tahun dapat dipersingkat menjadi empat tahun dengan okulasi.

Tetapi, ketika itu dia juga tak pernah berhenti berpikir, apakah okulasi adalah cara yang paling tepat? Sementara itu, ingatannya selalu kembali pada masa kecil, saat ia berjalan dari kebun satu ke kebun yang lain untuk mendapatkan buah durian berkualitas baik.

Pada usia tujuh tahun, Sarno sudah mampu membedakan durian berdasarkan jenisnya. Dengan memegang dan menimbangnya, ia tahu durian yang ada di tangannya telah matang atau belum, berkulit tebal atau tipis.

Ketajaman penciuman ikut membantu dia memilah durian yang puket (manis, berlemak, dan beralkohol) atau bukan. Dalam ingatan, dia menyimpan koleksi durian apa saja yang berkualitas baik. Sebut misalnya durian petruk, sunan, dan kuningmas. Kepekaannya itu telah membantu sang ayah mengumpulkan durian, dan menjualnya di pasar-pasar di Banyumas.

Namun, Sarno pun menyadari bahwa kepekaannya pada durian itu tak bisa menjawab pertanyaan yang selalu muncul di kepalanya, mengapa kita kalah dari Thailand? Ia lantas berusaha mendapatkan jawabnya, antara lain lewat buku-buku pertanian.

”Setelah memperoleh bahan informasi yang cukup, saya yakin okulasi bisa meningkat- kan produktivitas durian,” ucapnya.

Meskipun demikian, ia tak melakukan okulasi hanya pada dua pohon durian yang berbeda jenis. Pada percobaan pertama, Sarno langsung mencoba mengokulasi pohon durian montong oranye dengan 20 jenis durian lokal, seperti sunan, petruk, otong, cinimang, kereng, kuningmas, oneng, bluwuk, dan kumba karna.

Dalam percobaannya itu, ia membagi pohon primer, sekunder, dan tersier. Pohon durian montong oranye dijadikan pohon primer. Tubuh pohon itu dilukai pada beberapa bagian untuk menempelkan 10 tunas pohon durian lokal berkualitas baik, seperti petruk, kuningmas, dan kumba karna, yang menjadi pohon sekunder.

Setelah berselang tiga-empat bulan, okulasi pohon primer dengan sekunder mulai melekat. Sarno lalu mencoba membuat okulasi lagi pada pohon-pohon sekunder, dengan melukai pohon-pohon itu untuk menempelkan pohon durian lokal berkualitas sedang sebagai pohon tersier.

Banyaknya pohon durian yang digunakan untuk okulasi membuat pohon primernya tumbuh menyerupai pohon bakau yang akarnya mencuat dari tanah.

Menurut Sarno, tingkatan pada okulasi itu berguna untuk menjamin ketersediaan makanan yang lebih banyak untuk pohon primer. Adapun fungsi pohon sekunder adalah memengaruhi kualitas buah yang dihasilkan pohon primer.

Empat tahun kemudian atau tepatnya akhir tahun 2000, pohon hasil percobaannya sudah menghasilkan 30-40 buah durian montong oranye yang berbeda dari aslinya. Kulitnya tipis, daging lebih tebal, warna daging buah lebih merah seperti durian kuningmas, rasa lebih puket, dan beralkohol seperti durian petruk. Ukurannya sebesar durian kumba karna dengan berat bisa lebih dari 10 kilogram.

Menjaga erosi tanah

Batang-batang okulasi yang ditempelkan pada pohon primer, kata pria yang sehari-hari berprofesi sebagai guru SD Negeri Manggungan 1 ini, juga berfungsi untuk menjaga erosi tanah. Oleh karena itu, lebih dari lima tahun ini dia juga giat mengimbau para petani durian di sekitar Kemranjen, yang umumnya bermukim di kawasan perbukitan, untuk menanam pohon durian ”ciptaannya”.

Kini, setiap bulan Sarno tinggal menunggu pembeli dari Banyumas maupun Jakarta untuk mengambil durian dari pohon hasil ”ciptaannya”. Harganya per kilogram sekitar Rp 17.000, sedangkan bobot per buah 6-12 kilogram.

”Beberapa hari lalu saya menjual durian montong oranye seharga Rp 200.000 karena bobotnya sampai 12 kilogram,” ucapnya.

Tak hanya itu, setiap bulan Sarno juga memperoleh pesanan untuk memasok bibit okulasi bhineka bawor-nya ke Jawa Timur, Sumatera, dan Sulawesi. Untuk satu kali pengiriman bisa sampai 200 bibit. Bibit pohon durian itu dijualnya seharga Rp 75.000-Rp 150.000 per pohon, tergantung jumlah tunas pohon durian yang digunakan untuk okulasi.

Tentang nama bhineka bawor untuk durian ”ciptaannya”, kata Sarno, ”bhineka” diambil dari semboyan negeri ini, Bhinneka Tunggal Ika, yang bermakna keragaman budaya seperti keragaman jenis durian lokal di Indonesia. ”Bawor” diambilnya dari salah satu tokoh wayang yang menjadi simbol Kabupaten Banyumas, dengan ciri khas cablaka atau berbicara apa adanya.

Dengan semangat keragaman itu pula, pengurus Paguyuban Petani Durian Unggul Kemranjen ini menamakan duriannya Sarakapita yang merupakan akronim nama dirinya, sang istri, dan nama ketiga putrinya.

”Buah durian ini juga menjadi simbol kebersamaan keluarga kami,” ucapnya.

Kelas transisi

Namun, masih ada masalah yang mengganjal dalam pikiran Sarno, yakni bagaimana mengupayakan pohon durian bisa berbuah di luar musim. Seperti sekarang, petani durian di Kemranjen tak bisa memperoleh panen maksimal karena banyak buah yang rontok pada usia dini akibat curah hujan yang cukup tinggi.

”Untuk tahun depan, saya sedang mempersiapkan formulasi pupuk dan waktu yang tepat untuk memupuk pohon durian agar bisa berbuah sebelum bulan November,” ucapnya berharap.

Kompleksitas pemikiran Sarno tak hanya tecermin pada durian, tetapi juga pilihan lapangan tugasnya sebagai guru. Baginya, tak ada tantangan untuk mengajar siswa kelas tiga sampai lima karena siswa relatif sudah dalam kondisi stabil.

Kelas-kelas transisi bagi siswa merupakan pilihan dia, yakni kelas enam serta kelas satu dan kelas dua. Kelas enam, misalnya, menurut Sarno, merupakan lapangan tugas yang ”tiada akhir” lelahnya bagi guru sebab harus mempersiapkan para siswa sampai matang agar bisa lulus SD. Oleh karena itulah, sejak diangkat sebagai guru tahun 1988 hingga 2004, ia menjadi guru kelas enam.

Baru empat tahun belakangan ini dia pindah menjadi guru kelas satu dan dua. Kedua kelas ini, menurut Sarno, juga memiliki tantangan yang tak kecil karena siswa umumnya mengalami peralihan dari dunia bermain ke dunia belajar.

”Pada garis-garis berisiko inilah saya menemukan kenikmatan berkarya,” kata Sarno.

============================ end ================================

ALAMAT PAK Sarno

sumber: Re: [Bisnis-Karir] [Pelajaran] Sarno dan Pohon Durian Bhineka Bawor “H. Mubaroq <harun.mubaroq@…>
P’Masuk Angin

Setelah saya tanya-tanya
info yang saya peroleh, P;Sarno tidak menjual bibitnya ditempat lain
selain dirumahnya

Selain karena prosesnya yang agak susah, juga perlu ketelitian dan
perawatan khusus hingga bibitnya kuat dan bisa ditanam mandiri,
maksudnya bisa ditanam diluar kebun pembibitan

Kalo Bp berminat silakan datang langsung ke alamat P’Sarno sbb :

SDN Manggungan I
Jl Raya Wijahan – Manggungan,
Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas
Jawa Tengah.

Dari Yogyakarta sekitar 100km ke arah Purwokerto/Bandung
hingga perempatan Kecamatan Kemranjen, belok kanan
lokasinya tidak jauh dari perempatan ini, sekitar 3 km.

Karena beliau mengajar di SDN tersebut, jadi kita bisa datang setiap saat

Sekian tambahan dari saya

Bst Regds

Harun

About these ads

Entry filed under: Pengetahuan. Tags: .

Indonesia di Mata Dunia Istilah Istilah unik Pulau Batam

11 Comments Add your own

  • 1. gumbi  |  2009 June 15 at 1:01 am

    Hallo pak,
    Durennya enak kok pak, kalau ada waktu dan kesempatan, kita akan kesana lagi.. masih ada stock buahnya to pak ?
    salam dari saya dan kawan2 semarang yang pernah disuguhi duren Bawor.
    salam buat keluarga.

    Reply
    • 2. Bangbang Ahmad  |  2009 June 15 at 8:44 am

      hallo juga pak gumbi,
      senang ya bisa nikmatin duren super hasil dalam negeri sendiri, saya juga pengen nyoba nih, cuman sayang perjalanan batam-Banyumas cukup jauh.
      bagi2 pengalaman makan durennya aja pak, syukur2 kalau bisa ngirim durennya ke batam :)

      Reply
  • 3. Benediktus Herman  |  2009 November 1 at 4:24 pm

    wah selamat Pak Sarno terus berjuang dan belajar adalah yang terbaik, saya juga sedang mencoba mengebunkan durian dari Pak Sarno, semoga semua lancar dan membawa berkah buat semua. selamat berkarya

    Reply
    • 4. Bangbang Ahmad  |  2009 November 2 at 9:32 am

      @Benediktus herman
      klo nanti berhasil perkebunan duriannya sharing ya
      berapa pohon yang dicoba pak dan di daerah mana bapak menanam
      Saya juga penggemar duren Lokal yang jauh lebih terasa aroma dan rasa durennya

      Reply
  • 5. asep hardaya  |  2009 December 25 at 2:38 pm

    Pak Sarno bisa enggak beli benihnya dan dikirim langsung ke Kabupaten Ciamis Jawa Barat, berapan harganya dan ingin tahu setelah umur berapa tahun berbuahnya.

    Reply
  • 6. hendro  |  2010 January 27 at 7:43 pm

    pak saya salah satu penggemar duren,kalo boleh tau di jkt ada gak yg jual duren hasil kreasi bpk…? thank ya pak
    Maju trus pak biar bisa menembus pangsa internasional….

    Reply
  • 7. Wonge Dhewek  |  2011 December 8 at 12:18 pm

    Lha nyong sing pada-pada wong Banyumas malah urung tahu nicipi duren bawor. Kapanane nyong bisa meng nggone rika, inyong kepengin nicipi nikmate duren bawor.

    Reply
  • 8. agung  |  2013 January 3 at 10:21 am

    minta no HP pak Sarno nya pak….. trims

    Reply
    • 9. Bangbang Ahmad  |  2013 December 13 at 1:34 pm

      Saya juga pengen tahu :D, ada yang punya info????????????

      Reply
  • 10. agus rahmanto  |  2013 December 30 at 4:03 pm

    ini no HP Pak Sarno : 08156974044, kalau kesulitan bisa tanya ke saya 081319665639, nanti saya hubungi pak sarno untuk hubungi Bapak.

    Agus R

    Reply
  • 11. agus rahmanto  |  2014 January 27 at 2:05 am

    Sarno Ahmad Darsono
    Tlp : 0815674044 atau 081328933448 atau 085747047530 (anak p sarno)
    PIN BB: 25D0F729
    Email : sarnoahmaddarsono@yahoo.co.id
    Facebook : sarnoahmaddarsono
    Sarno Junior (Anak Pak Sarno)
    Alamat : Desa Alasmalang RT 05 RW 07, Kec Kemranjen,
    Kab Banyumas, Jawa Tengah

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: